CERITA PENDEK Selagi Ayah Masih Memarahiku Memenuhi tugas membuat cerpen 29 Januari 2026 Karya: Abraham Prisa Utama AKU membenci bunyi halaman yang dibalik dengan tergesa. Bunyi itu selalu terdengar seperti perintah. Suara ayah yang terus terngiang di pikiranku, menggangguku dan sangat mengganggu. Ayah yang tak pernah lelah menyuruhku duduk, membuka buku, dan diam. “Belajar,” katanya. Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak. Dulu, setiap kali ayah mengucapkannya, aku ingin menjadi apa saja selain anaknya. Ingin menjadi angin yang tak bisa disuruh berhenti, atau hujan yang jatuh sesukanya. Aku ingin berlarian sore hari, membiarkan peluh mengering sendiri, menertawakan hal-hal kecil bersama teman-teman, dan pulang tanpa membawa angka di kepala. Akan tetapi, ayah selalu ada di ambang pintu, dengan kening berlipat dan suara yang keras seperti palu. “Belajar! Buka bukumu! Buku itu masa depanmu.” Rasanya gendang telingaku ingin pecah mendengar sep...
Rabu, 03 Desember 2025 Everything just happened in this day. Very motning i woke up, and i didn't wish for it. I saw my dad suffering with his sickness. Papah sakit, ya itu biasa aja. Tapi i feel some days have been making my dad more blue. And, it made me blue too, anyway. I cried, ahahahha. I did crying so good for that reason. I talked and got refreshing my inind from that. I wish i hope. Abraham Prisa Utama Abraham Prisa Utama Abraham Prisa Utama There are first, second, third and etc.. Which one do you want? You want the first place, right? You want the second? Emm no but it's okay. How bout the thirf? Oooh that'll not be good for me. Abraham, aku mengucapkan terima kasih kepada diri dan jiwaku atas segala sesuatu yang baik dan buruknya. Atas dan bawah. Kiri dan kanan. Samping kiri dan kanan. Abraham, aku tersenyum karena kamu tersenyum. Abraham, aku terharu dan berbangga sungguh atas segala pencapaianmu. Pencapaian tidak selalu yang berada di atas, tetapi ketika kam...
Komentar
Posting Komentar