Selagi Ayah Masih Memarahiku (Cerita Pendek)
CERITA PENDEK Selagi Ayah Masih Memarahiku Memenuhi tugas membuat cerpen 29 Januari 2026 Karya: Abraham Prisa Utama AKU membenci bunyi halaman yang dibalik dengan tergesa. Bunyi itu selalu terdengar seperti perintah. Suara ayah yang terus terngiang di pikiranku, menggangguku dan sangat mengganggu. Ayah yang tak pernah lelah menyuruhku duduk, membuka buku, dan diam. “Belajar,” katanya. Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak. Dulu, setiap kali ayah mengucapkannya, aku ingin menjadi apa saja selain anaknya. Ingin menjadi angin yang tak bisa disuruh berhenti, atau hujan yang jatuh sesukanya. Aku ingin berlarian sore hari, membiarkan peluh mengering sendiri, menertawakan hal-hal kecil bersama teman-teman, dan pulang tanpa membawa angka di kepala. Akan tetapi, ayah selalu ada di ambang pintu, dengan kening berlipat dan suara yang keras seperti palu. “Belajar! Buka bukumu! Buku itu masa depanmu.” Rasanya gendang telingaku ingin pecah mendengar sep...