CERITA PENDEK Selagi Ayah Masih Memarahiku Memenuhi tugas membuat cerpen 29 Januari 2026 Karya: Abraham Prisa Utama AKU membenci bunyi halaman yang dibalik dengan tergesa. Bunyi itu selalu terdengar seperti perintah. Suara ayah yang terus terngiang di pikiranku, menggangguku dan sangat mengganggu. Ayah yang tak pernah lelah menyuruhku duduk, membuka buku, dan diam. “Belajar,” katanya. Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak. Dulu, setiap kali ayah mengucapkannya, aku ingin menjadi apa saja selain anaknya. Ingin menjadi angin yang tak bisa disuruh berhenti, atau hujan yang jatuh sesukanya. Aku ingin berlarian sore hari, membiarkan peluh mengering sendiri, menertawakan hal-hal kecil bersama teman-teman, dan pulang tanpa membawa angka di kepala. Akan tetapi, ayah selalu ada di ambang pintu, dengan kening berlipat dan suara yang keras seperti palu. “Belajar! Buka bukumu! Buku itu masa depanmu.” Rasanya gendang telingaku ingin pecah mendengar sep...
Abraham Prisa Utama The best name i've had entire my life I'm the only and one that has my name I have my own name I have my blessed name I have my protected name Thank you Thank you very much Thank you so much Thank you I let everything good comes to me I let everything good gets attracted by me I ler everything good keeps on me forever I let everything good gets even better when all good things are with me
Melangkah Lewat Kata-Kata Karya Abraham Prisa Utama Kelas X A Maharba duduk diam di kamarnya yang tenang. Hanya ditemani denting jarum jam dan semilir angin sore dari jendela besar yang terbuka lebar. Di luar sana, pohon-pohon bergoyang, dan langit memerah seperti kanvas yang dilukis mentari. Semuanya itu indah, tapi baginya, itu hanyalah dunia yang hanya bisa dipandang dari balik kaca. Di usia 16 tahun, Maharba tak lagi melangkah keluar rumah. Bukan karena tak mau, tapi karena tak mampu. Sebuah kecelakaan mencuri langkahnya, hingga ia berakhir di sini, di sudut kamar yang menjadi saksi bisu, ditemani kursi rodanya yang setia. Di atas meja, tergeletak sebuah buku bersampul cokelat tua sedikit lusuh, namun masih terawat. Di pojok kanan bawah sampulnya, tertulis sebuah nama dengan tinta emas yang nyaris pudar: Adnan. Buku itu berisi lembaran-lembaran tebal dengan coretan tangan sang Ibu. Mulanya ia anggap remeh, hingga akhirnya menjadi jejak terakhir kehadiran Ibu dalam hidupnya, s...
Komentar
Posting Komentar