Selagi Ayah Masih Memarahiku (Cerita Pendek)

 CERITA PENDEK

Selagi Ayah Masih Memarahiku

 

Memenuhi tugas membuat cerpen 29 Januari 2026

 

Karya: Abraham Prisa Utama



AKU membenci bunyi halaman yang dibalik dengan tergesa. Bunyi itu selalu terdengar seperti perintah. Suara ayah yang terus terngiang di pikiranku, menggangguku dan sangat mengganggu. Ayah yang tak pernah lelah menyuruhku duduk, membuka buku, dan diam.

“Belajar,” katanya. Hanya satu kata, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak.

Dulu, setiap kali ayah mengucapkannya, aku ingin menjadi apa saja selain anaknya. Ingin menjadi angin yang tak bisa disuruh berhenti, atau hujan yang jatuh sesukanya. Aku ingin berlarian sore hari, membiarkan peluh mengering sendiri, menertawakan hal-hal kecil bersama teman-teman, dan pulang tanpa membawa angka di kepala. Akan tetapi, ayah selalu ada di ambang pintu, dengan kening berlipat dan suara yang keras seperti palu.

“Belajar! Buka bukumu! Buku itu masa depanmu.”

Rasanya gendang telingaku ingin pecah mendengar sepenggal kalimat yang terus ayah ucapkan setiap kali ia mengingatkanku. Benar-benar memenggal kebebasanku pada duniaku. Aku yang seharusnya dapat bebas berkelana ke tempat-tempat yang ingin kukunjungi. Yang seharusnya aku pegang bola basket sedikit berlumur lumpur, siap untuk mendribelnya dengan semangat berapi-api di lapangan luas dekat komplekku. Sangat senang kurasa bermain bersama teman-temanku. Hanya saja semua itu sebatas angan-angan. Yang harus kulakukan sekarang adalah menutup harapan itu rapat-rapat. Menutup telingaku, buku yang ayah sodorkan, dan hatiku yang selalu menutup diri akan nasihat-nasihat ayah.

 

***

 

Sekarang, buku-buku itu berjejer rapi di meja kecil rumah sakit. Sampulnya kusam, sudut-sudutnya terlipat, dan beberapa halaman ditandai garis pensil yang dulu kubuat dengan kesal. Aku duduk di kursi plastik yang dingin, menatap ayah yang terbaring diam. Mesin di samping ranjangnya berbunyi pelan seperti napas yang dipinjamkan untuk ayahku.

Ayah tidak memarahiku lagi.

Itulah yang paling menyakitkan.

Tangannya terbaring lemah di atas selimut putih. Tangan yang dulu sering menunjuk buku, kini bahkan tak mampu menggenggam gelas air. Aku menunduk. Ada sesuatu yang mengalir naik dari dadaku ke tenggorokan, tapi berhenti di sana. Aku belum pandai mengucapkan perasaan yang datang terlambat.

“Mahabra,” suara Adnan muncul dari belakangku. Pelan. Selalu pelan. “Kamu nggak pulang?”

Aku menggeleng. “Nanti.”

Adnan duduk di sampingku, ikut menatap ayah. Sebatas teman, namun sering kali melewati batas pertemanan. Ia bagai saudariku yang selalu hadir di tengah dukaku. Tak banyak yang tahu aku seperti ini, karena semuanya hanya tahu pada aku yang bersukacita. Hanya dia yang tahu sisiku ini.

“Ayahmu dulu galak, ya,” katanya akhirnya, nyaris seperti bertanya pada udara.

Aku tersenyum tipis. “Masih. Setidaknya, di kepalaku.”

 

***

 

Aku ingat sore itu. Hujan baru saja reda. Aku pulang dengan sepatu basah dan tawa yang belum sempat hilang. Ayah menungguku di ruang tamu. Buku matematikaku terbuka di meja.

“Kamu ke mana?” tanyanya.

“Main,” jawabku singkat.

“Keringkan badan, dan segera belajar,” katanya lagi. Selalu begitu. Tidak pernah, “Bagaimana harimu, Nak?” Tidak pernah, “Kamu capek?”

Aku menjawab dengan diam. Diamku membuat ayah semakin keras.

“Kalau kamu terus begini, kamu mau jadi apa, Nak?”

Aku ingin berkata: jadi diriku sendiri. Sayangnya usiaku masih terlalu kecil untuk berani mengatakannya, untuk melawannya. Belum cukup keberanianku untuk membela diri di depan ayah. Aku memilih masuk kamar dan membanting pintu. Tangis tak bersuara mengalir di balik pintu. Aku membenci ayah dan juga buku ini. Berlembar-lembar hitungan di dalamnya, dan tak ada satu yang kupaham. Aku lebih membenci diriku yang tak pernah bisa memenuhi harapannya. Ya, hingga sekarang.

Malamnya, aku tidak membuka buku. Aku menatapnya saja seperti menatap musuh.

 

“Mahabra, kamu baik-baik saja?” Ucapnya Adnan sambil menyentuh lenganku.

Aku mengangguk, lalu menggeleng. Dua jawaban sekaligus seperti hidupku.

Aku meraih salah satu buku dari tas. Sebuah buku tulis lama yang sampulnya sudah hampir terlepas. Aku membukanya perlahan. Corat-coret muncul di halaman pertama buku ini, buku pertama yang ayah beri sebagai hadiah ulang tahun. Tergores tinta dengan berantakan. Aku sungguh masih kekanak-kanakan.

Belajar itu membosankan.

Aku tersenyum getir. Di halaman-halaman berikutnya, tulisan itu berubah. Ada catatan pelajaran, coretan marah, lalu kalimat-kalimat pendek yang tak lagi tentang pelajaran.

Ayah marah lagi hari ini.
Ayah tidak pernah mendengar.
Andai ayah tahu, aku capek.

Aku tak sadar kapan aku mulai menulis seperti itu. Buku yang dulu kubenci, diam-diam menjadi tempatku menumpahkan perasaan senduku.

“Ayah,” bisikku, entah untuk siapa. “Aku belajar.”

Ayah tetap diam.

 

***

 

Kata dokter, ayah butuh waktu. Banyak waktu dibutuhkan untuk perawatan medis ayah. Aku tidak tahu akan selama apa, dan akankah aku sabar menunggu ketidakpastian ini? Mungkin terlalu banyak untuk kesabaranku, dan terlalu sedikit untuk penyesalanku.

Di rumah, kamar ayah kosong. Bau minyak kayu putih masih tertinggal. Aku duduk di meja makan, membuka buku pelajaran yang dulu selalu membuatku ingin lari. Kali ini, aku tidak membaca rumus. Aku membuka halaman kosong di belakang, dan mulai menulis sesuatu.

Ayah, aku tidak pernah bilang terima kasih.
Maaf aku selalu lari saat ayah memanggil.

Maaf aku selalu mengeraskan hatiku pada ayah.
Maaf aku baru mengerti setelah ayah diam.

Aku menulis lama tentang amarahku yang menggebu-gebu. Pikiranku saat ini menakutiku lebih dari bagaimana suara ayah yang keras menakutiku. Ternyata itulah cara ayah mencintaiku. Setiap kata yang kuukir di atas lembaran putih ini menggambarkan perasaanku, Setiap tinta basah yang menari di atasnya seperti luka basah yang tertiup angin. Lalu, tinta itu mengering dan menjadi rentetan kata. Setiap kata yang terukir seperti luka kering, dan setiap kali aku membacanya, itu seperti mengelupas lukaku sendiri.

Untuk pertama kalinya, buku tidak terasa seperti perintah, tetapi ini menjadi jembatan antara kasih sayang ayah padaku, dan penyesalanku yang terlambat kusadari.

 

***

 

Hari berikutnya, aku kembali ke rumah sakit. Aku datang membawa sesuatu yang besar. Diriku, buku kecil yang kugenggam dan keberanian untuk mengaku sesal di hadapan ayah. Bersama Adnan, ia menyuruhku untuk berbicara 4 mata pada ayah. Aku mengangguk, walau dalam hati aku bertanya, “Akankah ayah menjawab atau bahkan mendengarkanku?” Aku masuk ke ruang VIP M1B, tempat ayah dirawat inap. Adnan menungguku di luar. Aku duduk di samping ayah. Aku meraih tangan kanannya yang masing dipasangkan infus. Mesin di samping ayah masih berbunyi teratur. Aku tidak tahu itu apa, namun itu cukup meyakinkanku bahwa ayah masih bisa “mendengarkanku”. Kuusap tangan ayah yang dingin karena suhu ruangan yang rendah. Selembar penuh corat-coret di buku kecil siap kubaca. Dengan jujur dan tulus, aku mulai menggentarkan pita suaraku agar ayah dengar.

“Ayah,” suaraku bergetar, “aku kangen dimarahi.”

Aku tertawa kecil, lalu menangis. Kalimat itu terdengar aneh, tapi itulah kebenarannya. Aku jauh lebih rindu pada nasihat-nasihat ayah yang dulu enggan kudengar. Apa itu bola basket? Aku bahkan tidak merindukannya sama sekali. Sungguh, aku membenci benda bulat itu. Bisa-bisanya benda itu mencuri perhatianku pada ayah waktu itu. Yang seharusnya kudengarkan nasihat ayah, namun aku justru lebih memilih pada sebuah bola.

Aku hanya rindu pada ayah. Rinduku sebesar alam semesta yang terus meluas setiap milidetiknya. Detak yang masih terdengar setiap kali aku berusaha mendekap pada pelukan ayah. Gerak tangan yang ayah lakukan bahkan sekecil apa pun. Matanya menatapku namun kosong. Keheningan terjadi pada ayah yang kukenal nyaring suaranya. Lemahnya ayah yang kuhadapi saat ini. Semua itu begitu berarti bagiku.

“Kalau ayah marah lagi nanti,” kataku, “aku janji akan duduk dan mendengar.”

Ayah tidak menjawab, tapi aku tahu ia pasti mendengarkanku.

 

***

 

Kini, setiap kali aku membuka buku, aku tidak lagi merasa dipaksa. Aku membaca pelan. Aku menulis lebih sering. Bukan untuk nilai, bukan untuk masa depan yang selalu ditakut-takuti ayah, tapi untuk merawat rinduku pada ayah.

Aku tahu, waktu tidak bisa diputar. Aku tahu, tidak semua marah bisa diulang. Tapi selagi ayah masih ada, selagi ayah masih menghembuskan napas di ruangan yang sama denganku, aku ingin berada di sini. Duduk, membuka buku dan membacanya seolah-olah ada suara ayah yang tegas terdengar lewat kata-kata yang tergores di sini.

Sekarang, aku sudah merasa dibebaskan oleh ayah untuk berkelana pada tempat-tempat yang ingin kukunjungi. Tempat-tempat yang ingin kusinggahi bersama orang tersayangku, ayah. Aku berkelana lewat kata-kata di buku-buku yang ada. Membaca indahnya Pantai Kuta di Pulau Bali. Merasakan padatnya sebuah kota metropolitan seperti Jakarta. Bahkan sebuah buku berjudul “Seribu Wajah Ayah” oleh Nurun Ala yang membawaku hidup pada figur seorang ayah, lebih tepatnya ayahku yang dulu. Aku merasa lebih bahagia saat membaca. Aku dan ayahku hidup di setiap bacaan. Aku masih dapat merasakan atmosfer rumah yang memanas karena ayahku yang terlalu tegas padaku untuk belajar, dan kali ini, aku siap untuk mendengarkan ayah dan menurut pada ayah. Lagi-lagi, semua ini hanya sebatas angan-angan.

Mungkin akulah yang lebih keras pada diriku melebihi yang ayah lakukan. Mungkin jika waktu bisa diputarbalikkan semudah membalikkan telapak tangan, aku berharap diriku dulu dapat segera memahami bahwa marahnya ayah itu kasih sayangnya padaku. Itu nasihat-nasihat penting yang akan menjadi kerinduan pada masa depan. Masa yang akan datang, dan ternyata masa itu adalah aku saat ini. Merindu, menyesal dan terus hanya mengandai-andai akankah waktu dapat mengampuni dan memberiku kesempatan untuk berbenah diri.

Akhirnya aku mengerti bahwa ada nasihat yang terasa menyebalkan karena ia datang terlalu dini, dan ada penyesalan yang datang karena kita terlalu lama menutup telinga.

AYAH, jika aku boleh meminta satu hal, aku hanya ingin ayah memarahiku sekali lagi. Dera air mataku mengalir deras dalam diam, dan aku pergi meninggalkan batu nisan milik ayahku di sini sekarang. Terima kasih atas kasih sayangmu, ayah. Aku minta maaf.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Abraham Prisa Utama

Melangkah Lewat Kata (Cerita Pendek)